Formulir itu harus diisi. Di baris teratas tertulis ‘Nama Lengkap’…
“Harus diisi?” tanya ku.
Riska mengangguk! “Ya iya laaaah...” (alisnya mengkerut = ‘maksud lo apa?’ – kira2 begitu kalo dia lagi membatin…hihihi)
Justru aku yang bingung. Mau ditulis apa ya? nama asli beneran atau nama ‘asli-asli’an ya?…
Begini aja, (masih dengan perasaan bimbang) aku tulis “bla-bla-bla-bla”…
“Eit, ini nama asli kan?”… --- Ha?? Gile bener nih cewek, toaknya kenceng juga…--bikin kaget aja—
Ya-ya-ya!…. itu nama asli ku… Panjang kan?..jadi ketahuan deh orang Jawa... Terus mo tanya apa lagi?… kok namanya aneh, begitu?… ya biarin tho.. suka-suka orang tuaku tho!… Kalo ngak suka, ya diem aja… Beres!!!
Hahahahaha…. (= itu sih kalo dianya tanya… Tapi, Riska kok diam aja ya?)
“Ya ampun In. Namamu bagus banget. Aku baru tahu. Kok nggak pernah dipakai sih?” seru Riska surprais. --- Haaa????---
**GUBRAKS!!!** (gantian alisku yang mengkerut = ‘maksud lo?’ –batinku)
Memang… sejak aku mulai kerja, aku mulai jarang memakai nama asliku…
Di kartu nama pun aku menulis : Aien H Riyadi. (titik!)… Dan semua orang memanggilku “Aien”… (hmmm simpel kan – hanya saja orang suka tanya : Bu Aien atau Pak Aien ya?…. hahahahahaha)
Kata orang, itulah nama ‘beken’… (hihihihi… emang cuma Inul doang yang punya nama beken…..) Dan, hal yang sama sering terjadi di lingkungan kerjaku…
“Mbak, aku pakai nama Atus Zahar aja ya?” kata wartawan baru dengan hepinya.
“Emang nama kamu siapa?” tanyaku.
“Hmmmm…. Halimatus Saadah!” katanya, masih dengan hepi.
“Oke!” ----- (hihihihi… nih cewek akhirnya kena juga… = kena Krisis Identitas!….)