Aien : Dunia Tanpa Batas...!!!!
  Indonesian Muslim Blogger' /  Family Blogs - BlogCatalog Blog Directory  blog-indonesia.com'/  KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

aien's posts with tag: cermin

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cermin
ReviewReviewReviewAty MannawiAug 7, '07 8:46 AM
for everyone
Category:Other
--- Kasih Sayang Untuk Anak ‘Spesial’ ---

Delapan tahun Aty diuji kesabaran. Berkat tangan hangatnya, puluhan anak ‘spesial’ kini bisa menjalani hidup secara normal .

“Ternyata Tuhan punya rencana besar untukku. Berkat Marvin percaya diriku tumbuh. Dia pula yang membuat Mamanya bisa tegar seperti sekarang ini,” ujar Aty Harun.

Tidak mudah bagi Aty memiliki anak dengan ‘kebutuhan khusus’ (istilah untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya). Pantang bersedih, Aty justru tertantang untuk bisa merubah hidup buah hatinya.
“Anak-anak ini titipan Allah yang harus dijaga. Kita yakin orang tua yang dititipi anak seperti ini pastilah dipilih oleh Tuhan bahwa dia mampu untuk membesarkan anaknya,” lanjut ibu dua anak ini bijaksana.

Bermodal keyakinan dan dukungan dari suaminya, Irvan Rasidi Harun, Aty mendirikan Marvin Treatment & Education Centre, delapan tahun silam.

“Kebetulan saya punya anak begini. Saya jadi lebih tertarik lagi karena di Indonesia, 8 tahun yang lalu pendidikan seperti ini masih sangat sedikit,” ungkap Aty.

Sekarang anak pertamanya, Marvianda Diani Harun, sudah 11 tahun.
“Waktu itu, saya bingung cari tempat pendidikan seperti ini. Anak seperti Marvin bukan terbelakang. Anak seperti ini punya potensi kalau kita gali lebih dalam,” lanjut Ibu dua anak.

Setelah ulang tahun ke 2, Marvin mulai terlihat ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya.
“Awalnya normal saja. Marvin merangkak, berjalan, dan mengeluarkan kata-kata seperti anak pada umumnya. Tapi lama-lama kok mengalami kemunduran. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Malah keluar tanda-tanda lain seperti jalan jinjit-jinjit, sering mengepakkan tangannya, mulai ngambek, kalau masuk suatu tempat yang tidak disukai pasti ngamuk, belum hiperaktifnya, dan kalau malam sulit tidur. Sebagai orang awam saya berpikir, ini apa sih?” kenang Aty. Saat itu ia masih berprofesi sebagai pengacara.

Di satu kesempatan, ketika perutnya mulai ‘terisi’ lagi, Aty membawa Marvin ke psikiater Meli Budiman.
“Anak saya akhirnya di diagnosa autis,” getir suara Aty.

Lewat teman-temannya di Amerika – Aty lulusan Amrican University, Washitong DC jurusan Law Legal Master – ia mendapat banyak informasi tentang anak-anak autis.
“Saya berpikir, bagaimana nasibnya Marvin di masa depan. Jadi, anak saya perlu kurikulum dan penanganan khusus dengan berbagai macam terapi dan tempat khusus. Mereka memang lebih sensitif dari anak-anak lain. Tapi kalau kita bisa ambil hatinya, bisa nurut banget,” ujar Aty.

Aty banting stir. Ia lepas profesinya sebagai pengacara sukses, untuk terjun ke dunia anak-anak ‘spesial’ lebih serius lagi. Ia membeli kurikulum milik Catherine Amurice –penulis buku Behavioral Intervention for Children with Austism’ untuk ‘sekolah’nya. Aty juga tidak pernah kehabisan energi untuk terus mencari informasi terbaru lewat buku-buku dan internet.

Saat ini ada sekitar 30 anak yang diterapi di Marvin Treantment dari total ‘alumni’ lebih dari 500 anak. Mereka mengalami gejala mulai dari keterlambatan bicara, kesulitan kontak mata, tidak peduli pada lingkungan, tidak ada respon ketika dipanggil, sulit berkonsentrasi, tidak bisa diam dan perhatian mudah beralih.

Ada juga yang gangguan membaca, mengeja, berhitung yang khas, angguan emosi, gangguan fungsi sosial masa kanak-kanak, anxietas (kecemasan), dan masih banyak lagi.

“70 persen memang didiagnosa autis. Nah, sekarang yang lagi tren adalah gangguan konsentrasi. Tapi ini bukan sesuatu hal yang berat. Ini hanya karena faktor lingkungan,” ujar Aty.

‘Tren’ baru ini dianggap Aty karena tingkat kesulitan pendidikan dan beban pelajaran untuk anak di Indonesia semakin sulit. PR semakin banyak, otomatis membuat anak stres.
“Apalagi dalam sehari anak sekolah. Tidak masalah kalau anak itu mampu. Tapi kalau tidak mampu, kasihan sekali. Kalau dipaksakan, lama-lama bisa gangguan konsentrasi. Umumnya dialami anak kelas 3 SD. Bahkan ada yang SMP dan kelas 2 SMA,” kata lulusan Universitas Trisakti Fakultas Hukum.

Jangan pernah menunda.
“Anak-anak ini tumbuh cepat sekali dan waktu terus berjalan. Kita harus uber ketinggalannya. Misalnya ada usia 3 tahun tetapi kemapuannya masih seperti anak usia 2 tahun. Kalau tidak terapi dan tidak diasah maka ketinggalannya akan semakin banyak. Kita tidak bisa menunggu bantuan dari orang lain. Harus kita hadapi sendiri. Kita harus fight,” tegas Aty.

Untuk anak-anak ini yang punya kebutuhan khusus, lanjut Aty, sebagai orang tua harus berani mengakui bahwa mereka punya anak-anak yang berbeda dengan yang lain.

“Biasanya mereka malu. Dipaksa sekolah di International school dan harus berbicara bahasa asing padahal kemampuannya tidak sampai segitu. Itu salah. Karena anak-anak begini harus mengikuti kurikulum khusus yang dibuat tersendiri. Dia tidak mungkin diajarkan yang sifatnya abstrak seperti mengarang. Itu sulit sekali untuk mengartikan,” tegas Aty

Langkah awal terapi adalah melatih anak mandiri. Diharapkan, kelak si anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Dilatih berperilaku positif. Dan tahu aturan-aturan yang harus ditaati.
“Anak-anak harus bisa meniru apa yang kita ajarkan. Itu yang kita ajarkan one by one. Kalau kita sabar mengajarkannya, dia akan cepat sekali dan lebih pintar dari anak normal. Konsep-konsep juga jauh lebih paham,” jelas Aty.

“Jangan pesimis,” tegas Aty, “Dihadapi saja. Mereka mengerti kok dengan kita. Bisa merasakan kasih sayang kita. Anak-anak seperti ini memang sulit sekali diajarkan, tapi begitu mereka mengerti, cepat sekali perkembangannya. Bahkan bisa lebih pintar.”

“Menjadi terapis itu tidak mudah,” Aty menggambarkan profesi yang ia jalani bersama 15 terapis lainnya di Marvin Treatment.

Agar tujuannya tercapai, yaitu mendidik anak-anak spesial bisa hidup normal, Aty sangat selektif memilih anggota tim-nya.
“Tentunya kalau semakin banyak anaknya, maka harus banyak pula terapisnya,” ucap wanita kelahiran 3 September 1964.

“Saya sangat ketat menyeleksi terapisnya. Ada psikolog yang harus tahu kondisi si terapis ini. Kalau IQ rata-rata orang sama. Tapi mereka harus di tes kepribadian. Apakah tahan lama, apakah dia mudah lelah, apakah mudah lelah, bagaimana tingkat stresnya. Karena anak ini macam-macam,” ujar Aty.
Kerja terapis bisa maraton. Misalnya jam 8 sampai jam 10 dia menangani anak autis berat yang non verbal dan hiperaktif. Terus jam 10-11 menangani anak down syndrome, jam 11-12 masuk anak CP. Jam 1-3 menangani anak auitis yang ringan, terus dilanjutkan anak yang kesulitan belajar.

“Jadi tingkat stresnya sangat tinggi. Kalau dia tidak kuat menangani anak ini, wah repot. Kita saja yang punya anak normal kadang suka tidak sabar. Padahal disini, terapis tidak boleh marah dengan anak ini. Karena kalau kita marah, si anak justru akan ketawa-ketawa sendiri, dia belum ngerti,” ujar Aty.

Terpenting, lanjut Aty, terapis harus punya kreativitas untuk menangani anak ini. “Dia juga harus punya background terapi. Tidak sembarangan untuk menangangi anak-anak ini,” ujar Aty dengan nada tegas.
Saat ini di Marvin Treatment terdapat sejulah pakar seperti Dokter psikiatri, Dikter anak, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Tingkah Laku, dan Terapis Wicara

**Aien/ Tabloid Wanita Indonesia**


ReviewReviewReviewFrika ChiaAug 7, '07 7:13 AM
for everyone
Category:Other
--- Jangan Diskrimansi Kami! ---

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB), Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

“My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.
Wanita keturunan ini berbicara terus terang. Tidak malu menutup jati dirinya dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.
“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hati wanita ini makin tersentuh.
“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.
Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.
“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.
Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).
“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA banyak yang punya anak.
“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.
“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan
“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

**Aien/ Tabloid Wanita Indonesia**


ReviewReviewReviewShinta Wiyoto DhanuwardoyoAug 3, '07 4:30 AM
for everyone
Category:Other
--- It Sounds So Funny ---

Ia pioner web design di Indonesia. Juga penggagas kompetisi bergensi di Indonesia khusus untuk para disainer. Lantas, apa yang masih dicari wanita cantik ini?

Baru dua bulan Shinta menempati kantor barunya di kawasan Mendawai- Kebayoran Baru. Rumah dua lantai itu didesain milimalis. Dinding hanya dihiasi beberapa lukisan yang didominasi warna oranye mencolok. Berpadu serasi dengan warna tembok yang abu-abu.

“Kali ini kantornya benar-benar aku disain sesuai keinginanku. Simpel dan tidak banyak ornamen. Khusus untuk ruang kerja, semuanya ada di lantai dua. Biar terjaga privacynya,” ujar Shinta dengan mata berbinar.

Uniknya, kesan simpel justru tidak terlihat di ruang kerja Shinta yang berada di salah satu sudut ruangan. Ia justru bermain dengan warna-warna gelap dan interior bergaya Eropa.
“Hahaha, biar ada suasana yang beda aja, tidak monoton, dan bisa membuat kerja lebih bergairah,” kata Shinta sambil tertawa lepas.

Sebagai pekerja kantoran yang lebih banyak berkutat dengan komputer juga ide-ide segar, tentu saja Shinta butuh tempat kerja yang nyaman. Pemandangan itulah yang nampak di kantor PT.Bubu Internet saat ini.

Bulan Juli tahun ini, usia Bubu genap sepuluh tahun. “Tidak terasa yah? Aku tahunya, Bubu ulang tahun setiap bulan Juli. Tanggalnya sih lupa. Dan sekarang, umurnya sudah sepuluh tahun. Sudah ABG,” ujar Shinta dengan wajah cerah.
Sejauh ini, diakui Shinta, ia sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Bubu Internet. Apalagi, sebagai CEO sekaligus pemiliknya, Shinta harus lebih kreatif menciptakan hal-hal baru.

“Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin membutuhkan Web Page yang baik agar bisa berkompetisi dengan para pesaingnya di negara-negara lain. Nah, mereka bisa melakukan aktifitas bisnis di Internet. Sebagai Web Develompment company, Bubu.Com fokus melayani designing webpages, intranet solution, e-commerce, networking solution, internet marketing and training,” jelas Shinta.

Shinta menyebut usahanya sebagai one stop solution untuk web development.
Jadi kalo ada perusahaan yang ingin ada presence di internet, Bubu bisa membantu dari mendesain situs, hosting, dan sampai me"marketing"kan situs web dalam bentuk pembuatan banner dan mendaftarkan di dalam search engines juga. Bubu juga mengembangkan web programmings yang didevelop tailor made to suit the clients' needs,” kata ibu dua putra ini antusias.

Shinta juga aktif menjadi pembicara tentang internet di acara seminar disejumlah sekolah dan universitas bergengsi.

Ditanya tentag kompetitor yang sekarang kian menjamur di Indonesia, dengan bijak Shinta mengatakan, “everyone can be competitors but on another time competitiors can be partners. Saya adalah believers dari stategic alliance. We can always try to partner or alliance with any one dimana kita akan bisa menonjolkan kemampuan dari masing2 pihak. Never thought of you guys that way. Just wondering, is that how you guys feel about us, since you asked the question? Hope not,” ujar lulusan University of South Australia yang kemudian mengambil gelar master of business Administration di Portland State University, Portland, Oregon, USA, dan memperdalam ilmu Arsitektur dan Interior di University of Oregon di Eugene-USA.

Ketika pertama kali mendirikan perusahaan ini, Shinta mengaku bingung akan memberinya nama apa.
“Tiba-tiba aku ingat anjing kesayanganku. Bubu itu memang nama anjingku. Tetapi aku pakai nama itu karena sangat simpel, mudah diingat and because it sounds so funny it will stick in your mind,” ujar Shinta sambil tersenyum.

Lahir di Jakarta tanggal 18 Januari, Shinta dibesarkan di Manila, Filipina. Tujuh tahun ia habiskan berkuliah di Amerika. Berbekal pengalaman yang sangat beragam, Shinta kemudian mendirikan Bubu. Di perusahaan yang hanya berpegawai 25 orang ini, Shinta menjadi CEO sekaligus founder dan shareholder.

Berkat hasil kerja kerasnya, Bubu kini dipercayai lebih dari 70 klien.
“Untuk perusahaan seperti BuBu, kuncinya adalah fleksibilitas dan kebersamaan atau team work antara setiap individu di perusahaan. Fleksibilitas dimana perusahaan dapat bereaksi terhadap permintaan pasar dan bukan memaksakan diri kepada pasar. Sedangkan kebersamaan melahirkan kemampuan yang terkoordinasi untuk melayani permintaan klien yang pastinya sangat variatif,” ujar peraih sejumlah penghargaan diantaranya Executive Women 2001, Young Modern Hero of Indonesia dari Hard Rock FM, 10 Young and Creative Individuals dan Lucky Strike Award.

Namun dari sekian banyak prestasinya, ada satu kebanggaan yang membuat nama Shinta kian bersinar, yaitu Kompetisi Bubu Award.
Bubu Awards adalah kompetisi web design yang diklaim paling bergengsi di Indonesia. Diadakan setiap Bubu Internet sejak tahun 2001. Setiap tahun ada tema khusus yang diperlombakan, semisal tema Pariwisata Indonesia (Indonesian Tourism) yang menjadi tema Bubu Award tahun 2005.

Bubu Awards selalu mengundang puluhan nama terkenal yang berasal dari luar negeri dan dalam negeri untuk menjadi juri serta menggandeng Ernst and Young sebagai tabulator resmi . Adapun beberapa kategori atau kelas yang bisa diikuti dalam Bubu Awards. Mulai dari Individual, Corporate, dan People’s Choice Awards: Best Web Celebrities Awards and Best Blog Awards.
Dan yang paling membanggakan, mulai tahun 2005 Bubu Awards terpilih sebagai perwakilan World Summit Award di Indonesia. World Summit Awards adalah kontes global untuk pemilihan dan mempromosikan e-contents dan application terbaik di tingkat dunia yang didukung oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), UNESCO, International Telecommunication Union, United Nations Information and Communication Technologies Task Force, dan Ministry of Industry & Commerce Kingdom of Bahrain.

**Aien/ Tabloid Wanita Indonesia**


ReviewReviewRosiana SilalahiAug 3, '07 4:05 AM
for everyone
Category:Other
Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV ini melakukan perombakan kinerja diawal kepemimpinannya.
"Orang pintar, punya range. Tetapi gapnya tidak boleh terlalu jauh. Jadi, siapa-pun yang bekerja di sini harus mempunyai kemampuan yang standar. Karena itu seorang jurnalis harus terus mendapatkan ilmu lewat training atau course," kata Rosi.
** 27 Maret 2007 **
(WI edisi 906)


ReviewReviewReviewIndayati OetomoAug 2, '07 2:48 AM
for everyone
Category:Other
--- Mengisi Rongga Dengan Cinta ---

Setelah menyelamatkan ‘perahu’ yang hampir karam, Inda bersiap go Internasional.

Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group, memuji Inda wanita yang sangat hebat. Dan, Remy Silado-pun berkomentar, Inda partner kerja yang sangat menyenangkan, hangat dan profesional.
Mendengar itu, Indayati Oetomo tersenyum.
Katanya, ia tidak suka disanjung. Dan itu tercermin dari curiculum vitae milik Inda. Di kolom profesi, ia menulis; Ibu Rumah Tangga dengan 2 orang putra. Barulah di baris kedua tertulis; International Director John Robert Powers (JRP).

Inda tak pernah membayangkan JRP sebesar ini. Punya 5 cabang dan tahun depan siap membuka cabang baru di Kuala Lumpur. Menengok ke belakang, Inda hanya mengelus dada.
“Sekarang JRP menjadi soulmate saya. Saya menjadi lebih enjoy. Saya tidak tidak harus sikut-sikutan dan kill or to be kill, Kalaupun kita tidak tega untuk membunuh, kita tidak untung. Rasanya kurang manusiawi. Ada pertentangan batin,” kata Inda. Ia pernah jadi world booker dari pintu ke pintu.

Bermula ketika Inda singgah ke Surabaya. Ia tinggal di Malang.
Ia melihat situasi jalanan yang sangat ramai. Orang saling memaki. Tercetus dalam benaknya, “andaikan di Surabaya ada John Robert Powers, pasti tidak akan seperti ini.”

Atas dorongan suami, Inda mengajukan permohonan membuka cabang JRP di Surabaya. Sayangnya JRP Jakarta tidak merespon. Sampai Inda nekat membuat seminar untuk mengukur berapa besar animo orang terhadap JRP. Ternyata sukses.
“Saya kepala batu. Konsep saya kalau di tolak saya tidak puas. Apapun saya harus dapat. Kalaupun gagal, saya baru puas karena toh saya sudah berusaha maksimal,” ujar wanita yang pernah menjadi Marketing Manager di PT. Citrasouvenir Utama.

Empat tahun JRP Surabaya menjadi cabang JRP Jakarta. Barulah tanggal 1 Agustus 1992 ia dipercaya mengelola sendiri dibawah pengawasan JRP Internasional.
Yang membuat Inda bangga, JRP Surabaya mendapat ‘Achievement Award for the Most Outstanding Performance’ Boston International.

Inda juga mengikuti coorporate training di Boston, di kantor JRP Pusat. Ia satu-satunya orang Indonesia yang punya kesempatan itu. Membuat JRP Surabaya kian berkembang dengan pesat.

Bulan Juni 2003 Inda diundang ke Jakarta untuk membenahi manajemen. Ia juga merubah kurikulum, mengganti imej JRP yang dahulu identik dengan wanita, hingga melatih tim marketing.
“Karena aslinya JRP adalah personality development and communication, berarti every body needs curriculum. Di Surabaya laki dan perempuan sudah sekolah di JRP. Miracle, selama 4 bulan saya bisa melunasi hutang 2 milyar. Itu saya kalau disuruh cerita lagi, saya tidak mampu. Saya sendiri juga takjub,” kenang alumni Universitas Widya Karya Malang.

Inda mengakui, ia terpaksa menggunakan tangan besi untuk berpacu dengan waktu.
“Leadership saya bukan one man show. Saya paling marah kalau bawahan saya nggak pintar. Saya tidak suka bawahan saya goblok dan mohon petunjuk. Mereka harus jadi risk taker. Kalau kejedok saya baru turun,” ujar Inda.
Inda jadi lebih sering turun ke lapangan.

Bahkan, punya 5 cabang tidak membuat Inda stres. “Karena saya well plan dan well prepare. Saya punya jadual sampai Desember dan semua GM sudah pegang. Kapan saya di Medan, Surabaya, Jakarta, dan Bali. Kalau ada jadual yang menyimpang, mereka diskusi sendiri,” katanya.

Itu membuat Inda memutuskan tidak memakai sekertaris pribadi.
“Sekertaris saya cuma communicater. Alasannya sih simpel saja, banyak sekertaris pribadi jiwanya tidak sama dengan bos-nya. Kalau lagi tidak mood, imej atasannya jadi tidak bagus,” ujar Inda.

Bahkan, seloroh Inda, ditiap kantor JRP ia tak punya meja. “Ngapain butuh meja, saya cuma keliling-keliling kok. Jadi, saya disitu duduk aja di depan GM. Paling cuma titip barang saya sedikit. Meja saya sih di rumah.”

Akar pendidikan JRP adalah knowing our self.
“Kalau kita tidak tahu siapa diri sendiri, kita tidak akan mencintai diri kita. Kenapa orang sering konflik dengan orang lain, karena dia ada rongga yang tidak terpenuhi. Jadi akhirnya dia lebih banyak menuntut untuk dipenuhi. Akhirnya yang keluar ego sentris,” kata wanita kelahiran Surabaya, 10 Desember 1956.
Namun, lanjut wanita anggun ini, kalau rongga itu penuh dengan cinta terhadap diri sendiri, otomatis ia tidak membutuhkan orang lain untuk mengisi, “tapi kita bisa tranfer ke orang lain,” tegas Inda.

“Intinya memahami diri dan mencintai diri itu penting. Kalau kita mencintai diri sendiri, kita akan care terhadap knowladge-nya, terhadap fisiknya, terhadap apa yang dia punyai. Kalau terpenuhi semua, dia luber dan dia bisa bersosialisasi.”
Itu juga yang membuat filosofi Inda menjadi sederhana. “Hanya empat huruf yaitu love,” ujar Inda.

“Yaitu saya mencintai diri saya, dan saya juga mencintai pekerjaan. Kalau saya tidak mau, ya tidak sama sekali. Kalau saya mau, saya all out. Jadi saya tidak pernah merasa pekerjaan ini beban. Jadi fun. Love buat saya filosofi hidup. Karena love itu giving bukan taking. Giving lebih bahagia daripada taking,” ucap Inda.
Cinta pula yang membuat hidup Inda penuh warna. Ia menyebut dirinya manusia in-efisien karena tiap sabtu minggu pulang ke Malang, mengurus suami dan anak.
Inda juga sering mengajak bawahannya berkumpul di rumahnya yang asri di Malang sekedar kumpul-kumpul.

“Saya hidangkan semua makanan khas Malang dan Jawa Timuran. Lengkap pakai gerobaknya segala. Kalau sudah begitu, mereka suka lupa sama tuan rumahnya,” ungkap Inda sambil tertawa lepas.

**Aien/ Tabloid Wanita Indonesia**


ReviewReviewReviewNatalia Sutrisna TjahjaAug 2, '07 12:23 AM
for everyone
Category:Other
CEO Maria Monique Lastwish Foundation ini berduka. Anak semata wayangnya meninggal karena sakit. Kini, ia ingin membahagiakan anak-anak yang memiliki penyakit berat, dengan memberikan keinginan terbesar si anak.
"Saya peluk dan hibur mereka dengan cinta. Saat seperti itulah saya merasa Monique ada di dekat saya. Itulah kebahagiaan saya yang tidak bisa dibeli dengan uang," ucap Natalia.
** 14 Maret 2007 **
(WI edisi 903)


ReviewReviewGKR NurmalitasariAug 1, '07 11:48 PM
for everyone
Category:Other
Dirut PT. Yasilk Gora Mahottama, Komisaris Utama PG Madukismo, Ketua 3 Asosiasi besar, dan putri sulung Sultan Hamengkubuwono X ini mengangkat taraf hidup rakyat miskin melalui usaha ulat sutera liar, di atas lahan tandus 50 hektar di pegunungan Imogiri.
"Buat saya, kerja itu justru hiburan. Saya bisa jalan-jalan ke kabupaten-kabupaten. Naik ke atas gunung melihat awan-awan yang ada di bawah kita. Itu menyenangkan sekali. Apalagi melihat orang senang, saya jadi ikut senang," ujar Sari.
** 20 Juni 2007 **
(WI edisi 918)


ReviewReviewReviewRatna MegawangiAug 1, '07 11:30 PM
for everyone
Category:Other
--- Sembilan Pilar Untuk Anak ---

Ia pelopor pendidikan holistik berbasis karakter. Istri Meneg BUMN yang enggan ‘mendompleng’ kepopuleran sang suami.

Ketika berbicara pendidikan anak usia dini, suara Ratna terdengar antusias. Seperti membedah pikirannya, sejuta keinginan mengalir bagai tak terbendung.
Cita-cita Ratna sangat sederhana. Ia ingin bangsa Indonesia memiliki karakter yang kuat. “Pada akhirnya menjadikan bangsa yang berkarakter,” tegas Ratna.
Sama-sama Kuliah

Tahun 1982, Ratna lulus dari IPB Bogor sebagai lulusan terbaik. Ia mengambil Jurusan Makanan, Gizi, dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian. Namun, Ratna belum temukan talenta dan kesenangan hati yang sesungguhnya.
“Waktu itu saya tidak punya cita-cita mau jadi apa. Hidup, buat saya dijalani saja apa adanya,” kata Ratna.

Sambil ‘menunggu waktu’, Ratna melanjutkan kuliah S-2 untuk belajar gizi di School of Nutrition, Tufts University, Medford, Massachussets, AS. “Saya dapat beasiswa dari Ford Foundation untuk tahun pertama dan dari World Bank di tahun kedua,” ucap wanita kelahiran 24 Agustus 1958.

Setahun kemudian, suaminya, Sofyan Djalil menyusul kuliah S-2 di tempat yang sama. Sambil menunggu Sofyan selesai kuliah, Ratna bekerja sebagai research asisstant.
Barulah tahun 1988 ia kuliah S-3 dan lulus tiga tahun kemudian sebagai doktor bergelar Ph.D dalam bidang International Food and Nutrition Policy. Ketika Ratna lulus S-3, Sofyan justru baru setahun kuliah S-3 mengambil bidang International Financial and Capital Market Law and Policy.

“Ya tidak mungkin saya sudah punya dua anak pulang sendiri ke Indonesia,” ujar ibu tiga anak, Rumi, Mutia, dan Lutfi ini sambil tertawa.
Oleh seorang profesor, Ratna ditawarkan masuk post doctoral program. Tentu saja kesempatan ini tak disia-siakan. Ia mengambil ilmu baru tentang anak, keluarga, proyek keluarga, dan child development, karena hanya bidang ini yang menyediakan dana beasiswa.

Uniknya, ilmu terakhir inilah yang mengubah jalan hidup Ratna.
“Saya seperti menemukan kesenangan, talenta, visi kehidupan, dan hakekat idealisme yang sesungguhnya. Apalagi ilmu ini bersentuhan dengan fenomena anak dan keluarga,” kata penulis puluhan buku dan artikel.

Ketika menjalani kuliah post doctoral program di tahun 1991-1993, Ratna melakukan independent research. Ia melakukan riset tentang keluarga dan perkembangan anak di berbagai negara.
“Waktu saya melakukan post doctoral program, saya merasa inilah yang rasanya menyentuh hati saya, jiwa saya, begitu,” kata Ratna dengan roba bahagia.

Gizi, kata Ratna, adalah food for the phyisical body, sedangkan masalah-masalah pendidikan anak dan keluarga adalah food for the soul.
“Keduanya sama saja, makanan juga, bedanya yang satu untuk tubuh, yang satunya lagi untuk jiwa,” ujar Ratna.

Ratna gemas karena ia melihat fenomena dan persoalan anak dan keluarga dianggap sebagai kehidupan sehhari-hari yang biasa-biasa saja. Dianggap taken for granted yang tidak terlalu penting untuk dirasakan.
Kepedulian Ratna pada persoalan anak dan keluarga tertuang dalam manuskrip penelitian yang kemudian dibukukan oleh United University Press, Tokyo berjudul ‘Strengthening The Family: Implications for International Development’.
Menemukan kesenangan baru, Ratna bersedia pulang lebih awal ke Indonesia tahun 1993. Padahal saat itu Sofyan sedang menyelesaikan disertasi S-3.
Sambil mencari format yang pas untuk menuangkan semua ide-ide tentang pendidikan anak, Ratna mengajar di IPB.

Barulah tahun 2000 Ratna dan Sofyan sepakat membuat terobosan baru.
“Saya mencoba cari terobosan. Bagaimana mendidik anak melalui karakternya sejak dini karena karakter tidak mudah dibangun,” kata Ratna.
Mereka mendirikan Indonesia Heritage Foundation atau Yayasan Warisan Luhur Indonesia. Ratna menjadi Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif. Keinginannya hanya satu yaitu membangun bangsa yang berkarakter.

“Untuk membangun bangsa berkarakter, ada sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal yang harus ditanamkan pada anak sejak usia prasekolah,” kata Ratna.

Pertama adalah karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; Kedua, kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah dan diplomatis; Keempat, hormat dan santun’ Kelima, dermawan, suka tolong-menolong, dan gotong royong/kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati; Kesembilan, toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Kesembilan karakter ini yang diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good.

“Tiap anak untuk tiba pada perilaku berkarakter juat butuh proses luar biasa sulit,” kata Ratna.
“Walaupun kita tidak ada feeling, ya, tapi kalau orang sudah terbiasa bebruat baik, sekali dia berbuat tidak baik sudah tidak enak. Jadi, kebiasaan itu menimbulkan suatu nurani yang dirasa tidak enak. Dia merasa malu,” jelas Ratna.

Kini, Ratna telah mendirikan hampir 500 TK Semai Benih Bangsa (SBB) yang mengacu pada pendidikan holistik berbasis karakter seluruh Indonesia.
Uniknya, meskipun Ratna bersuamikan seorang Menteri (dulu Sofyan Menteri Komunikasi dan Informasi, kini Meneg BUMN), ia tak pernah mencantumkan nama suaminya di deretan namanya. Ia selalu menulis : Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc.
“Suami bilang bahwa kamu adalah kamu. Artinya kamu adalah Ratna Megawangi yang nggak ada embel-embelnya dengan Menteri ini. Kamu sudah dibangun dari awal begitu,” kata Ratna. Ia tetap sederhana dan bersahaja dan kesehariannya

**Aien/ Tabloid Wanita Indonesia**



ReviewReviewAntarina S.F. AmirAug 1, '07 1:03 AM
for everyone
Category:Other
CEO High/ Scope Indonesia ini menghargai perbedaan. Terketuk hatinya ketika seorang profesor di University of Pittsburgh, USA membaca puisi 'Flowers are Red' karya Harry Chaplin.
"Saya ini hanya ibu-ibu yang punya ambisi memberikan pendidikan terbaik pada anaknya. Saya tidak mau anak saya dididik seperti saya," ujar Rina.
** Kamis, 7 Juni 2007 **
(WI edisi 916)


ReviewReviewReviewVeronica ColondamJul 31, '07 10:44 AM
for everyone
Category:Other
CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) ini memandang hidup begitu indah. Pada saat orang hidup hanya untuk dirinya sendiri, dia akan kehilangan arti hidup itu sendiri.
"Pengetahuan inilah yang membuat saya menemukan panggilan hidup. Saya bangga. Saya bahagia, terutama ketika saya bisa memberikan waktu terbaik yang saya miliki untuk melayani sesama," ucapnya.
** Selasa, 26 Juni 2007 **
(WI edisi 917)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.