aien's posts with tag: anakku
Usia memang baru 5 tahun lebih (Maret pas 6 tahun). Tapi, tuntutan setinggi langit. --- Ibunya : ”Kasihan betul anakku!”--- Itulah yang aku alami sekarang. ”Yudha sudah bisa baca kan, In?” tanya kakakku di Solo. ”Ya, sudah. Lumayan lancar,” kataku. ”Sudah bisa berhitung?” ”Sudah.” ”Mewarnai?” ”Sudah.” ”Bla-bla-bla-bla....” ”SUDAH!!!!!!” Tahun ajaran baru masih lama... ** (kalo nggak salah masih bulan Juni) ** Tapi... aku sudah stres begini... (!!!!???) ”Terpaksa Yudha aku ikutkan kursus calistung (singkatan :Baca, Tulis, Hitung). Biar semakin lancar,” aku mengeluh. Sedih lihat hari-hari Yudha yang harus belajar dan belajar.....!!! Dalam Hati : Sumpah-sumpah-sumpah... aku tidak pernah mau memaksa anakku!!! ”Tapi, itu harus, In!” kata kakakku, menenangkan. Siapa sih yang kasih standar setinggi itu? ---- aku mulai protes! Masuk SD, banyak betul syaratnya: - Harus bisa baca ---- perasaan dulu aku baru belajar baca pas di SD. Sebenarnya aku tidak perlu cemas, toh Yudha sudah bisa baca. Tapi, gemas aja!!!!
- Harus bisa menulis ---- kata ibu-2 di TK, tes masuk SD harus menjawab pertanyaan dengan tulisan (Hah?)
- Harus bisa berhitung ---- Hiks! tugas guru SD apa dong?
- Harus bisa baca surat-surat pendek ---- ini kalau masuk SD Islam.
- Harus bisa mewarnai ---- kalau masih jelek gambarnya gimana?
belum lagi tes interview yang katanya mirip wawancara kerja.... Aku pernah protes sama Diknas ”Haruskah anak-anak dipaksa belajar sementara masa-nya masih bermain?” ”Oh, kurikulumnya tidak demikian, Bu,” kata orang Diknas (pas acara seminar) ”Terus, tes-tes yang ada di SD itu bagaimana?” ”Kita tidak menganjurkan demikian. Itu berarti tidak benar, Bu!” Protes hanya protes..... Nyatanya, banyak Ibu yang stres gara-gara anaknya mau masuk sekolah!!!!! ”Daripada tidak diterima, ikuti aja peraturan SD-nya, In” kata kakakku lagi. (Huh!!!)
Anakku dibilang aneh… (aku protes!)… hanya gara-gara cita-cita anakku ‘nyleneh’ (baca = tidak umum didengar anak-anak yang lain)... ”Coba Yudha, diulangi lagi. Apa cita-citamu?” tanya bu guru, hati-hati plus penasaran... ”Kalo pagi jadi dosen, kalo siang jadi wartawan!” jawab anak sulungku, tegas... HOREEEEE!!!!!! ---- aku hepi --- hip-hip hura-hip hip hura....!!!!! Jujur, aku jadi bangga… en (hiks!) aku terharu.... Anakku mencintai profesi orang tuanya... ”tengs mai lov! (=thakns my love!)”... Tapi, yang jadi ganjalan, guru TK anakku bukannya bangga... ”Masak sih Yudha nggak pingin jadi dokter, atau jadi polisi, atau jadi pilot?” ....PLEASE DEH!... Aku jadi ingat masa kecil... ”In cita-cita mu kalo besar mau jadi apa?” ”Jadi Presiden!” kata ku bersemangat (sedikit cadel --- hehehe... maklum masih 5 tahun)... Setiap ditanya, begitu jawabku... (heran deh, kenapa ya dulu aku bangga amat pengin jadi Presiden?) --- Hidup Presiden!!!! --- (secara di kelas anakku yang pingin jadi Presiden ada 5 anak.... hahahaha)....
Jika anak adam telah meninggal maka putuslah amalnya kecuali tiga macam : yaitu sedekah jariah ( yang tahan lama ), ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh ( berakhlak baik ) yang mendoakan kedua orang tuanya. ( HR. Muslim ) Kisah ini berdasarkan kisah nyata, yang diangkat dari sebuah berita harian dari negeri jiran. Alkisah adalah seorang anak, sebutlah namanya Ita, anak perempuan yang lucu, dan bertubuh kecil serta mulai menyukai memegang pensil , usianya baru empat tahun dan ayah ibunya bekerja, sehingga orangtuanya berinisiatif mengambil seorang pengasuh untuk Ita. Kegemarannya memegang pencil membuatnya sibuk mencoret apa saja yang dijumpainya, seluruh dinding kamarnya penuh dengan coretan2 yang dengan bangga ditunjukannya pada siapa saja yang melongok kamarnya. Suatu hari, ayah Ita membeli mobil baru, dan karena masih mendapat jatah jemputan dari kantor, maka mobil baru disimpan di garasi, dan terbetiklah dalam pikiran Ita kecil , untuk menjadikan mobil ayah sebagi objek gambar lucuku, pikirnya ," ayah pasti suka " bila mobil barunya ada gambar rumah dan bola. Lalu asyiklah Ita menggariskan semua yang ada dalam benaknya diatas mobil baru ayah. Ketika pukul 5, petang ayah pulang, dengan wajah berpupur bedak dan mata bersinar, Ita masih menggengam kuat pensilnya dan menarik lengan ayahnya dan berkata " Ayah, ayo lihat gambar Ita, Ita baik kan sudah buat mobil ayah bertambah indah..?" Bergegas ayah Ita keluar dan betapa terperanjatnya ayah Ita melihat hasil karya anaknya, dan berteriak memanggil istrinya, pengasuh , dan dihadapan mereka, maka ayah memukul berkali2 tangan Ita sekuatnya, dan malam itu Ita mendapat hukuman dikurung dikamar, tanpa peluk cium bunda seperti biasanya. Malam itu, Ita menangis, hatinya sepi, hasil karyanya dibuang tanpa arti, Ita kecil menangis terus tanpa henti, lama dirasakan tangan yang sakit dan juga badan yang panas semakin menguasai dirinya, dan panas tinggi menyelimuti dirinya sampai berhari2 , karena tangannya mengalami infeksi,lalu orangtua Ita membawa Ita ke rumah sakit,setelah pengasuhnya memberi obat penahan panas yang juga tidak kunjung menyembuhkannya, dan dokter memvonis Ita untuk dioperasi sebelah tangannya. Dalam rangkulan bunda, Ita menyodorkan tangan kirinya yang tak sakit dan menyerahkan pensil kesayangannya kepada ayahnya yang menangis ditepi ranjang anaknya. " Ayah, ma'afkan Ita, ayah.simpankan pensil Ita, Ita tidak mau dipotong tangannya, Ita janji tidak akan menggambar dimobil ayah lagi.Tapi tolong bilang dokter ayah,.. tangan Ita jangan diambil, mengapa dokter marah karena Ita menggambar di mobil ayah ?" Mataku merebak,membayangkan Ita kecil yang polos harus kehilangan tangannya, yang mungkin saja, kalau sudah dewasa nanti tangan itulah yang akan tengadah memberi doa pada ibu bapaknya, dan batinku teringat mengenai bekal yang dibawa seseorang bila dijemput ajal, dimana semua harta tidak dibawa, termasuk rumah dan mobil kita, kecuali sepotong mutiara yang bernama 'amal jariyah- dengan wujud do'a anak yang soleh. " dan seharusnya Ita kecilpun boleh berkata " HARGAKU .. LEBIH MAHAL DARI MOBILMU ", karena do'aku dapat membawamu kesurga , tetapi tidak begitu ..dengan mobilmu.
Tanganku sibuk sepanjang hari.... Aku tak punya banyak waktu luang. Bila kau ajak aku bermain.... Kujawab, ”Ibu tak sempat, Nak!” Aku mencuci baju, menjahit, memasak.... Semua untukmu. Tapi bila kautunjukkan buku ceritamu. Atau mengajakku berbagi canda.... Kujawab, ”Sebentar, Sayang.” Di malam hari kutidurkan kamu.... Kudengarkan doamu, kupadamkan lampu. Lalu berjingkat meninggalkanmu. Kalau saja aku tinggal barang satu menit lagi.... Sebab hidup itu singkat. Tahun-tahun.... Bagai berlari. Bocah cilik tumbuh begitu cepat.... Kamu tak lagi berada di sisi Ibu. Membisikkan rahasia-rahasia kecilmu.... Buku-buku dongengmu entah dimana. Tak ada lagi ajakan bermain.... Tak ada lagi cium selamat malam. Tak kudengar lagi doamu.... Semua itu milik masa lalu. Tanganku, dahulu sibuk, sekarang diam. Hari-hari terasa panjang membentang. Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu. Menyambutmu hangat di sisiku. Memberimu waktu dari hatiku! Kita melakukan banyak kekeliruan dan kesalahan, tapi kelalaian kita yang Utama, adalah mengabaikan anak, menyepelekan air mata kehidupan. Banyak kebutuhan kita dapat ditunda. Tapi anak tidak dapat menunggu. Kini saat tulang-tulangnya dibentuk, darahnya dibuat, dan nalurinya dikembangkan. Padanya kita tidak menjawab ”BESOK” sebab ia dijuluki ”HARI INI”
Semalam, adik sudah terlelap... Mainan kecil -si bidadari cantik- juga terlelap dalam buaian mimpi, terengkuh hangat dalam dekapan.... Adik tersenyum... Mungkin bukan buat Ibu yang baru saja datang.. Tapi Ibu tahu, Adik pasti akan tersenyum senang kala mata terjaga... Ibu memang tidak membawa apa-apa, kecuali rasa cinta yang membuncah... Rasanya, ingin sekali waktu berputar... Ketika Adik masih bemain-main bersama si bidadari kecilmu... ketika Ibu membuka pintu... Adik berlari kencang... Memeluk... Mencium... Dan Tertawa senang... dalam dekapan dada Ibu yang kelelahan.. Sayangku... Ibu bangga, bisa memberimu kehangatan hati... Ibu merasakan, surga itu memang ada.. surga itu ada di setiap desah nafas mu yang panjang.....
| |