 --- Belajar Dari Meja Kerja ---
Keyakinan membuat Maya pantang putus asa. Ia yakin Namarina bisa merayakan ulang tahunnya ke-50.
Kenangan indah di lantai satu, di rumah sudut jalan Cimahi, membuat Maya bergidik.
“Itu rumah dari saya lahir. Itu rumah yang Ibu beli secara syah. Dulu, kegiatan Namarina hanya di lantai bawah. Lantai atas asrama Kalimantan Timur. Namarina maju, Ibu beli rumah itu dari ahli waris Kerajaan Kutai. Akte Jual Beli lengkap semua,” cerita Maya.
Tetapi, ketika Nanny Anastasia Lubis –Ibunda Maya sekaligus pendiri Sekolah Balet Namarina- hendak mensertifikatkan Hak Guna Bangunan, Pemda Kutai mengklaim sebagi pemilik sah.
“Ribet sekali. Sampai Ibu meninggal tahun 1993 belum selesai. Sampai akhirnya kita harus keluar dari rumah itu tahun 2001 bulan April. Mungkin kalau Ibu masih ada, beliau pasti syok berat. Bukan karena materialnya tapi histori-nya,” ungkap Maya dengan nada kecewa.
Yang lebih membuatnya sedih, semua pengacaranya pindah haluan membela pihak lawan. Padahal, kata Maya, proses hukum sudah dimenangkan di tingkat Pengadilan Negeri, “tapi begitu di Mahkamah Agung, kita dikalahkan, tanpa uang pengganti sepeserpun.”
--- Hikmah Kesabaran --- Kuncinya adalah sabar. Maya merasa sendirian ketika Ayahnya meninggal tahun 1998. Awal tahun 2001, adalah masa-masa terberat sulung dari tiga bersaudara ini.
“Itulah hikmahnya. Saya sendiri tidak tahu, kok bisa apa yang saya mau pasti dikasih sama Tuhan,” katanya mantap. Istri Serrano Gara Sianturi ini memulai dari nol. Ia mengontrak rumah muridnya di Menteng.
“Saya boleh bayar bulanan. Bayangkan, di daerah Menteng mana ada rumah yang dikontrak bulanan. Saya sendiri sewa apartemen di Kuningan,” ujar Maya, penuh rasa syukur.
Hikmah lainnya, Maya bisa membeli rumah tua seluas 640 meter persegi di jalan Halimun dengan harga murah. Pemiliknya, seorang dokter yang anak-anaknya pernah balet di Namarina.
“Saya berusaha pakai keringat. Saya habiskan semua tabungan dan pinjam di Bank untuk bangun lagi Namarina. Itulah saya. Karena saya orangnya keukeuh, apa yang saya mau harus didapat, Alhamdulillah, akhirnya Namarina bangkit lagi. Sekarang luar biasa kemajuannya. Bahkan, tanggal 30 Desember 2006 kita ulang tahun ke-50. Ini benar-benar surprais,” kata Ibu dua anak ini dengan mata berbinar.
--- Kerja Yang Dicintai --- Maya tidak merasa dirinya istimewa. Meski Ibunya penari balet terkenal- pernah jadi guru balet istri Soekarno, Fatmawati- Maya kecil justru bercita-cita jadi pramugari. Lulus SMP, Maya ditawari Ibunya sekolah di Royal Academy of Dance, London, Inggris. Ia masih remaja usia 15 tahun ketika berangkat ke sekolah balet bertaraf Internasional.
“Mungkin karena dari lahir sudah terbiasa dengar suara musik juga melihat orang bergerak. Lama-lama tertarik juga. Saya ikut kelas balet dari umur 5 tahun,” kenang Maya.
Lima tahun di London, Maya pulang tahun 1991. Disana ia berlatih tiap hari dari jam 9 sampai jam 6 sore. Diakui wanita bersuara berat ini lama kelamaan ia jatuh hati pada balet.
“Saya merasakan enaknya dunia tari ini. Saya langsung berpikir, “inilah jalan hidup saya,” kata wanita kelahiran 1 Oktober 1960. Maya merasa sangat beruntung, bisa bekerja di bidang yang ia sukai dan cintai. “Jadi kerja berat seperti ini, seperti waktu ultah Namarina ke 50, kerja keras sekali, capek, stress, tapi happy. Menghasilkan materi dan kepuasan batin. Lain waktu saya lihat teman-teman saya yang kerja di kantoran, rasanya beban sekali,” ujarnya.
--- Bikin Dance Company --- Di ulang tahun emasnya, Namarina meresmikan Namarina Youth Dance (NYD). “Semacam dance company,” jelas Maya.
Indonesia, kata Maya, belum punya grup penari professional yang dikelola secara profesinal. “Di Amerika dan Inggris sudah ada sejak lama. Di Singapura saja punya Singapore Dance Theater. Ini sebuah grup profitable yang penarinya bekerja disitu full time. Juga stage manager, ligthing, koreografer dan sebagainya. Mereka tidak boleh kerja dimana-mana. Makanya dibuat program kerja jangka pendek, menengah dan panjang.”
Agar menguntungkan, dance company harus punya kegiatan minimal 4 kali dalam setahun. Pertunjukkan tidak hanya Sabtu-Minggu tapi bisa berhari-hari. Diluar negeri, penari diberi waktu libur 3 bulan. Mereka boleh kerja di luar. “Nah karena masih baru, NYD tidak bisa saya jalankan langsung profesional. Kondisinya berbeda. Makanya saya sebut semi profesional,” ujar Maya, optimis. Maya bercita-cita, kelak NYD bisa pentas di mancanegara, tidak hanya ‘jago kandang’. Konsepnya, “Saya arahkan ke balet yang Indonesia dengan sentuhan tari tradisi. Seperti pentas 50 tahun kemarin. Kita pakai musik hidup, seperti piano. Ceritanya bisa Malin Kundang, Jaka Tarub, Sisingamangaraja, dan sebagainya.
Saat ini NYD diikuti 21 penari berusia antara 14 tahun hingga 25 tahun. Mereka aktif berlatih setiap hari. Produksi pertamanya telah dipentaskan bulan Januari. Mendatang, NYD tampil lagi di bulan November.
--- Tidak Belajar --- Boleh dibilang, Maya menjalankan Namarina secara otodidak. Ketika Ibunya meninggal, Maya tidak dibelakali ilmu manajemen.
“Mami meninggal mendadak di usia 67 tahun. Sakit kanker lever. Saat itu saya masih jadi artistic director, jabatan yang saya peroleh setelah empat tahun pulang dari London. Jadi saya tidak pernah dilibatkan dalam manajemen,” ujar Maya.
Akhirnya Maya belajar dari meja kerja Nanny. Ia pelajari kertas-kertas yang ditinggalkan beliau. Dari situ Maya tahu bagaimana me-manage Namarina, sampai ke masalah gaji pegawai.
“Untungnya saya termasuk orang yang cepat belajar. Mungkin saya juga punya sense of management yang baik. Jadi hanya dalam 6 bulan saja, saya sudah bisa mengatasi semuanya. Itulah masa-masa saya struggle banget,” katanya. Maya pantas berbangga hati. 7 cabang sudah ia buka di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namarina juga punya 2.000 murid untuk kelas balet, senam dan senam jazz.
“Itulah buah dari kesabaran, keuletan dan kerja keras,” katanya dengan senyum.
Aien/ Tabloid Wanita Indonesia
  | mbak aien saya baru sadar ternyata mbak aien ini di WI ya....... dulu sih rutin baca tabloidnya, tapi sekarang udah jarang2.... maju terus mbak ya..... |
| Itulah buah dari kesabaran, keuletan dan kerja keras,”  * sarat makna,dalem sanget pesen nya *...., |
 | Artikel yang sangat bagus.... menceritakan apa adanya.... |
 | @Rantarou : Yup, tengkyu.... mudah-2an bermanfaat..... |
| |