Aien : Dunia Tanpa Batas...!!!!
  Indonesian Muslim Blogger' /  Family Blogs - BlogCatalog Blog Directory  blog-indonesia.com'/  KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

ReviewReviewReviewNoni Sri Ayati PurnomoJan 5, '08 9:03 PM
for everyone
Category:Other
--- Dulu Dipanggil Om-Tante ---

Di usia yang baru 37 tahun Noni mengepalai 20 ribu lebih karyawan yang 95 persen adalah pria.

Tentu saja tidak mudah baginya memimpin orang-orang yang dahulu ia panggil Om dan Tante ini. Usia diantara mereka terpaut jauh. Bahkan, tingkat pemahaman yang telah dibedakan oleh zaman, membuat Noni berhadapan dengan sejumlah pekerjaan ‘rumah’ yang butuh kesabaran tinggi.

“Kuncinya adalah respek,” ujar Noni Sri Ayati Purnomo, B. Eng., MBA, sambil tersenyum.

Tahun 1997 Noni resmi bekerja full time di Blue Bird Grup. Ia dipercaya memegang satu departemen baru, Business Development, sebagai Vice President.

“Awalnya kita tidak punya departemen yang khusus menghandle perusahaan secara keseluruhan. Baik dari marketing strategy maupun corporate image-nya. Masing-masing jalan sendiri. Blue Bird berkembang seperti karet gelang dalam minyak tanah. Tiba-tiba besar sendiri,” ujar lulusan Universitas San Fransisco, USA bergelar Master of Business Administration, major in Finance and Marketing.

Gebrakan pertama, Noni membuat divisi humas.
“Kenapa baru sekarang dibuatnya? Karena dulu dianggap belum terlalu dibutuhkan. Sementara sekarang konsumen sudah mulai kritis dan perusahaan berkembang dengan cepat. Salah sedikit jadi sorotan. Jadi kita perlu humas,” ujar Noni yang sempat bekerja Jakarta Convention Bureau sebagai Market Research Officer untuk belajar ilmu marketing.

Humas atau hubungan masyarakat ini menjembatani masalah-masalah eksternal dan internal. “Bayangkan, disini ada 20 ribu orang lebih. Bagaimana kita mengkomunikasikan policy kita ke mereka kalau tidak ada humas?” lanjut ibu dua anak, Amanda dan Sasha.

Ia juga tidak peduli harus berhadapan dengan pemilik perusahaan yang juga orang tuanya, dr. H.Purnomo Prawiro dan Hj.Endang Basuki.
“Kita sering adu ngotot. Ayah juga sering protes dengan ide-ide baruku. Bagaimanapun orang baru lulus pasti punya idealisme sendiri. Kita punya ide banyak sekali tetapi saya sadar ada yang bisa diterapkan ada yang tidak. Akhirnya Ayah saya hanya bilang, ‘ya sudah coba saja. Nanti kamu akan belajar sendiri,” kata lulusan Universitas Newcastle, Australia bergelar Bachelor of Engineering bangga.

Noni sadar, selama ia kreatif, inovatif, dan berada dalam koridor yang benar termasuk tidak meminta bujet yang tidak terlalu besar serta tidak menyalahi norma-norma, Perusahaan tidak akan keberatan.

Gebrakan pertama yang dibuat Noni adalah membuat tiga proyek besar. Pertama menyangkut coorporate image, meliputi logo, iklan, marketing strategi dan humas. Kedua menyangkut TPM, berkait proses pengerjaan standart operating procedur (SOP), yang juga melakukan bisnis engineering dan memikirkan proses operasional sehari-hari. Dan proyek ketiga menyangkut IT (Teknologi Informasi) menggunakan project-project SAP.

“Sebagai Project Director, saya melakukan project besar di bidang infrastruktur dari segi IT-nya. Kita menerapkan sistem ARP untuk back office. Semuanya terhubung dengan teknologi, supaya kita bisa dapatkan data-data akurat. Jadi mulai dari administrasinya, bengkelnya, finance-nya, semua pakai SAP, terhubung ke pusat,” ujar Noni yang mengaku bangga dipuji Ayahnya membawa angin segar di Blue Bird yang telah berusia 35 tahun.

Noni sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Blue Bird Group. Ia sadar harus selalu siap dengan ide-ide kreatif dan hal-hal baru. “Maka dibutuhkan tim yang solid,” katanya.
Lantas, bagaimana ia menyikapi perbedaan mendasar di lingkungan pekerjaannya. Salah satunya dari faktor usia, mengingat banyak karyawan yang berusia jauh di atas usianya.

“Saya kenal mereka sejak masih kecil. Dulu mereka saya panggil om-tante. Jadi, menurut saya kuncinya adalah respek. Kalau kita merespek mereka, pasti mereka akan respek dengan kita. Kita tidak bisa mengharapkan mereka menerima kita dengan begitu saja . Pastilah ada ‘perasaan’ itu,” ujar Noni bijak
Walaupun kadang-kadang Noni masih mendengar guyonan, ‘Dulu kamu kan saya pangku-pangku.’ ‘Dulu kamu kan suka ngedot.’ ‘Dulu kamu kan tidak pakai baju’. “Dan itu diutarakan di depan orang-orang. Saya tidak marah. Saya pikir, itu berarti mereka merasa dekat. Yah sudahlah, kita anggap becanda saja,” kata Noni sambil tersenyum.

Walaupun di luar pekerjaan Noni masih memanggil dengan sebutan om dan tante, saat bekerja, rapat misalnya, ia tetap memanggilnya Bapak dan Ibu.

“Kalau mereka berbuat salah, ya sebisa mungkin saya tegur. Diatasi dengan cara bicaranya saja. Bagaimanapun juga orang yang lebih tua merasa, “saya kan berharga disini. Saya punya pengalaman lebih dari kamu. Kamu anak kecil mau tau apa sih.” Kalau kita sudah tahu pemikiran mereka, kita harus tahu bagaimana cara ngomongnya. Kalau saya jadi dia, apa yang akan saya rasakan. Pasti kan nggak enak. Bagaimanapun juga ‘perasaan’ itu ada,” ujar Noni. Saat ini ia juga menjabat sebagai Director Sales & Marketing Golden Bird Bali & Bali Taksi, Director Pusaka Group, dan Koordinator Blue Bird Peduli

“Pak Pur (Ayahnya) selalu bilang, atasan itu harus jadi pelayan, bukan atasan harus dilayani. Kalau anak buahnya menemui kesulitan, ia harus dilayani oleh atasannya. Jadi kalau ada kesalahan-kesalahan anak buah, itu kesalahan atasannya. Kalau atasannya tidak bisa membantu bawahannya, jangan jadi atasan,” ujar istri Klaas Redmer Schukken sambil tersenyum.

Puas sekali hati Noni. Satu kerja kerasnya kini berbuah manis.
“Program Blue Bird Peduli berkembang pesat. Saya koordinatornya,” jelas Wanita yang aktif sebagai Ketua Bidang Humas, Pengurus Pusat, Masyarakat Transportasi Indonesia.

BBP memberi beasiswa untuk seluruh anak-anak karyawan Blue Bird Group yang tengah melanjutkan SMU, D1, D3 dan S1. Juga sunatan masal dan bantuan khusus anak-anak cacat, mulai dari kesejahteraan, penyuluhan dan pendidikan. Diluar itu BBP membantu sekolah-sekolah miskin bekerja sama dengan Yayasan Kurnia.

“Yang terpenting, seluruh karyawan Blue Bird, anak-anaknya bisa sekolah sampai tinggi. Mimpi dan cita-cita para orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa berpendidikan lebih dari mereka. Tidak harus berprestasi. Khusus yang berprestasi akan kita beri bonus,” ujar Noni.

Tahun ini tercatat 3000 lebih anak yang diberi beasiswa BBP. Total biaya yang dikeluarkan setiap enam bulan adalah lebih dari 400 juta rupiah. “Anak-anak selalu menjadi prioritas. Apa lagi yang bisa kita berikan kalau tidak membahayakan anak-anak kita?” ujar wanita kelahiran Jakarta 20 Juni 1969.

**Aien/ Tabloid Wanita Indonesia**


Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.