Foto-foto ini sudah lama sekali.... Tepatnya tanggal 4 Juni 2006, di Waterboom Lippo Cikarang.
Saya mengajak keluarga Wulung (sepupu suami), karena kebetulan ada 10 tiket gratis...... Hepi banget waktu itu..... Kita berjanji, tahun depan akan datang ke tempat ini lagi.
Kebetulan, tanggal 4 Juni 2007 jatuh hari Senin... Saya dan Susi (istri Wulung) sepakat acara berenang mundur tanggal 10 Juni. Tapi, lagi-lagi ada halangan...... Tanggal 8, saya dan Susi harus antar anak-anak kami, Yudha (anakku) dan Salsa (anak Susi), piknik TK ke Taman Safari. Kebetulan kami bertetangga (namanya juga anak rantau).... dan punya anak-anak yang bersekolah di TK yang sama, di Mitra Bakti. “Wah hari Minggu (tanggal 10), Salsa pingin ke Puri Mal. Maaf ya mbak Aien,” kata Susi, waktu itu. “Ya sudah, nggak apa-apa. kita mundurin saja tanggal 17,” kataku.
Tetapi, Allah berkehendak lain…… Saat itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 5.30... Di ujung telepon, Susi histeris… “Mbak Aien…. Mas Wulung “tidak ada!!” Badanku bergetar hebat. Begitupun suamiku. “Maksudmu, tidak ada apa Sus!” aku pun berteriak histeris.
Innalilahi Wa Inna Illaihi Rajiuun….. Pada tanggal 12 Juni 2007, saudara kami tercinta, Wulung Wirhayanto, meninggal dunia saat bertugas di Bogor. Usianya masih sangat muda, 34 tahun. Wulung meninggal karena pembuluh darah di belakang otak pecah. Tubuhnya yang telah dingin membeku, ditemukan temannya di kamar Hotel Salak, Bogor, masih menggunakan baju dinas, lengkap.
Sejak Senin pagi, Wulung yang bekerja di Kantor BRI Pusat Jakarta, berangkat ke Bogor. Ia menjadi penyelenggara workshop & diskusi antar cabang BRI dan antar divisi. Karena punya tanggung jawab yang besar, Wulung memilih berangkat walaupun badan mulai terasa tidak enak.
“Jam 5, rapat kita break dulu sampai habis Isya. Wulung memilih kembali ke kamar. Katanya, kepalanya pusing sekali. Tapi, habis makan malam, kita ketuk pintunya berkali-kali tidak dibuka,” kata temannya dengan mata memerah.
“Mbak, aku miss call sampai 67 kali. Terakhir aku bicara sama Mas Wulung jam 4 sore,” ucap Susi sesenggukan.
Aku tak mampu berkata-kata. Mataku pun tak mampu lagi mengeluarkan air mata. Pusara itu telah mengering. Jenazah Wulung di kebumikan di pemakaman Purwoloyo, Jagalan, Solo. Banyak kenangan yang sulit dihilangkan, karena kita memang telah banyak melakukan hal-hal indah bersama. Susi dan dua anaknya (Salsa & Rafi) akhirnya memilih pulang ke Solo.
Selamat jalan saudaraku… Semoga, semua amalanmu di dunia, menjadi cahaya terang di alam sana…. Amin
hepinya 2 keluarga.jpg 1 Comment
|