Pengalaman 3 minggu yang lalu. Tapi baru sempat aku tulis disini….
“Ma, maafkan Papa yaaa”
Suara laki-laki itu terdengar sangat keras.
Sebagian mata melirik ke arah penumpang yang duduk di depanku. Dan aku pun ikut melirik dari sela-sela kursi.
“Ma… Ma… Maafkan Papa yaaa,” sekal lagi pria itu berbicara melalui handphone.
“Tadi Papa sudah ke Rawangmangu…. Bis-nya baru saja berangkat…. Papa ketinggalan…. Papa sendiri juga stress, jalanan macet sekali, Ma…. Papa tidak bisa berbuat apa-apa….. Papa janji, besok pagi barangkat pagi-pagi dan langsung beli tiket di terminal.”
Percakapan yang panjang lebar….. dan selalu diakhiri dengan kalimat, “Maafkan Papa ya, Ma!”
Aku (dan mungkin beberapa penumpang bis) mendengar jelas….. suaranya keras.
--- dalam hati : kasihan bener nih Bapak. Berkali-kali minta maaf, tapi kayaknya istrinya
marah sekali.
*** Awalnya, aku simpati sama si Bapak….. tapi….. ***
“Sekarang Papa sedang di jalan. Bis-nya sudah sampai Pasar Minggu. Papa mau langsung pulang ke Mess.”
--- (haaaahhh ???) : sekarang kan bis-nya sedang ke Terminal Blok M.
Perempuan di sebelahku sampai mengernyitkan dahinya.
“Sekarang saja Papa masih kena macet. Mobil-mobil sampai nggak bergerak.”
--- (walaaahh !!!) : padahal, dari Pancoran sampai mendekati Mabes POLRI…
jalanan sangat lancar.
Duuuuh…. Si Bapak bo’ong bener deh…..
“Sebentar lagi Papa sampai Mess . Nanti Papa telepon Mama lagi…. Papa mau turun dulu di Kalibata.”
--- (ya ampuuun !!!) : semua penumpang memang mau turun.
Tapi turunnya di Teminal Blok M.
Kenapa bisa jadi satu kebetulan, selanjutnya aku naik Bis arah Ciledug….
Dan si Bapak itu juga naik bis yang sama….
Kali ini… duduk di belakangku…. bersama seorang perempuan….
Dan mereka berdua asik bercanda….
(?????????????????????)