Aku bahagia bisa jadi wartawan… (gimana nggak bahagia, sudah 13 tahun bo’ --- hihihihi = betah amat!)
Banyak dunia yang bisa kujelajahi, dari yang urusan senang-senang, jalan-jalan gratis, berdarah-darah, sampai urusan pasang muka jaim… (huahaha.. – itu kalo sudah berurusan ama para sosialita...)
Tiba-tiba,
“Mbak, ternyata yang tulis artikel kawin kontrak itu Mbak Aien ya?” ujar wartawan baru di WI.
Dia baru saja bolak-balik bundel WI jaman dulu, cari referensi untuk artikel film bioskop ‘Kawin Kontrak’.
Aku tertegun. Hihihihihi….
“Itu sih waktu masih jaman gelap. Masa-masa preman!” kataku santai.
“Masa preman?”
“Wah, uda lama banget,” kataku lagi.
Ingatanku seolah menari-nari ke masa itu (… e’alaaah…. sok romantis gitu!)
Tahun 1999 aku resmi ditempatkan di pos “Aktual & Kriminal”…
“Aien, liput keluarga Imam Samudra!” kata Bos-ku.
“Siap, Mbak!”
Jadilah si Aien ini preman lapangan… hahahahaha… grubak-grubuk, ngubek-ngubek Serang, ber-investigasi ria….
---- ya ampuuuun, (aku lagi bayangin waktu itu).... bisa-bisanya tuh si Aien pakai trik-trik konyol biar bisa masuk rumah Imam, dan wawancara istrinya terpidana mati Bom Bali) ----
Banyak lagi liputan-liputan dunia keras yang aku jalani dengan senang hati.
Pernah, aku di teror gara-gara menulis transaksi ‘Kawin Kontrak’ di Puncak.
“Huntingnya sampai 1 bulan. Bayar 300 ribu ama perantara. Dan kejar-kejaran ama preman yang dibayar germo.. hihihihi… seru deh,” ceritaku pada anak WI itu.
Atau waktu menulis sindikat penjualan anak-anak dibawah umur Indramayu ke Batam.
“Kantor dapat telepon gelap. Mereka mengancam kalau wartawan inisial AR akan berakhir hidupnya!” -- Glek! ---
Panjang sekali pengalamanku selama 7 tahun di ‘dunia hitam’ --- huahahaha….
“Tiga kali seminggu nge-pos di Polda. Setor muka gitu loh!... Kita juga harus kenal dan dekat dengan semua Kapolres di Jakarta. Harus familiar dengan semua Kalapas (Kepala Lapas). Dan yang paling seru, bisa-bisanya aku akrab sama preman-preman jalanan,” ceritaku, bernostalgia..
--- Aku demen banget dengan gaya liputan ‘INVESTIGASI’….hihihihi… ---
“Trus, penampilan Mbak seperti apa?” tanya anak itu, penasaran.
Hihihihhi…. “Dulu, aku sih nggak pernah pakai anting, gelang, dan lain-lain… baju juga cuma kaos dan jins. Sepatu sport dan pakai tas rangsel. Simpel,” kataku, lagi.
Masa-masa itu begitu aku nikmati. Mengungkap kasus-kasus besar. Mulai dari keluarga bom Bali, Hambali, transaksi seks di Blok M, transaksi Narkoba terbesar oleh jaringan Franola, pembunuhan wartawan PILAR –Rudy P Singgih, dan masih banyak lagi. Termasuk berita-berita kecil seperti kasus pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi, penculikan, dan sebagainya.
“Sering dong Mbak lihat pelaku kejahatan,” tanya anak itu.
“Wah bukan hanya sering. Sudah jadi makanan tiap minggu. Tapi itulah asiknya jadi wartawan,” ujar aku.
---- Wah, kok jadi bernostalgia gini….. (kikiikikkkkk) ----
“Masih pengin turun ke lapangan?”
“Hmmmmm….. kayaknya, enggak sih. Sudah tua…. (hahahaha –sok tua!).”
----- Ah, masa-masa itu….. -----